Pages

Powered by Blogger.

1.7.14

Book Review: The Fault In Our Star

Tertarik baca buku ini gegara liat trailer filmnya (kelihatannya mengharukan), segera ke situs www.goodreads.com (situs kepercayaan gw buat liat review orang2 tentang suatu buku), dapat rating 4.48/5. Berarti bisa dikatakan banyak yang suka buku ini. dan liat comment2/review2nya, katanya buku tersedih yang pernah mereka baca.

Akhirnya ke Gramedia buat nyari buku ini. Awalnya pengen beli yang versi asli (English) seharga Rp 139.000, tapi karena lagi cekak keuangan akhirnya memilih yang terjemahan Indonesianya Rp 49.000. (Agak pelit emang :P)

Butuh waktu 5 hari untuk meghabiskannya (ditahan-tahan bacanya supaya nggk langsung habis dalam waktu singkat). Menceritakan sepasang cewek dan cowok yang mengidap penyakit kanker yang bertemu dalam suatu perkumpulan orang-orang yang memiliki penyakit kanker. Perjalanan cinta dan perjalanan mereka dalam mencari penulis novel kesayangan mereka.

Setelah membaca gw ngasih rating 2.5. Entah kenapa menurut gw biasa aja, gw bahkan tidak sampai menangis, mengingat gw gampang banget nangis kalo baca buku atau nonton film (Harpot 5 aja nangis terus kalo baca ulang). Apa karena bahasa yang sudah diterjemahin sehingga maknanya jadi berbeda? bisa jadi. Emang lebih enak baca sesuatu yang berasal dari penuturan bahasa aslinya.
Yang awalnya pengen nonton filmnya juga, malah nggk begitu minat lagi.

11.6.14

Indahnya Tepat Waktu

Well, seharusnya gw melanjutkan post tentang perjalanan gw 6 bulan yang lalu, tapi masih belum memindahkan foto-foto yang berkaitan sehingga post tersebut harus kembali ditunda.

Tepat waktu yang saya maksudkan adalah tepat waktu sholat. Betapa indah dan leganya ketika kita melaksanakan panggilan Tuhan tersebut tepat waktu. Ketika adzan berkumandang hendaklah kita menyegerakan berwudhu dan menghadap-Nya. Bukan bermaksud untuk memberi ceramah, hanya menulis post ini sebagai koreksi ke diri sendiri. I was once a procrastinator in this case. Selalu "nanti saja, toh waktunya masih panjang".

Tetapi sadarkah kita, dengan menunda-nunda berarti kita menunda-nunda berbicara dengan Tuhan. Tuhan yang telah memberikan kita segalanya. Apakah kita mau kalau Allah juga menunda rezeki kita? :)

Beberapa yang kita bisa dapatkan dengan tepat waktu antara lain perasaan lega. Lega karena telah melaksanakan panggilan Tuhan. Siapa yang bakal menjanjikan kita masih hidup jika kita terus menunda-nunda hal tersebut?
Selain itu kita tidak diburu waktu dan rasa malas. Contohnya Isya,waktu yang paling panjang, kalau kita menunda-nunda kita keburu ngantuk, malah sholat-nya asal-asalan ingin cepat selesai.

Kenapa kita tidak bersegera disaat waktunya ketika kita selalu datang sebelum waktunya untuk nonton bola, interview kerjaan, dll?

Alhamdulillah 

16.12.13

Travelling Part 1; Takengon (1)

Setelah hampir 2 minggu akhirnya gw punya waktu untuk menuliskan perjalanan gw ke Aceh tanggal 2-8 Desember kemarin. Gw ke Aceh ini karena memang tugas kantor, delivery aplikasi WebGIS dan training ArcGIS + WebGIS (gw trainernya lhooo, wahahaha). Tempatnya bukan di Banda Aceh, tapi di Takengon, Aceh Tengah.

Gw nggk sendiri sebenarnya ke Takengon ini, gw sama teman kantor gw Mas Arif 'Gozen' Wibowo yang selanjutnya gw sebut Mas Arif. Nah dikarenakan ke Takengon ini dari Banda Aceh memakan waktu 6-10 jam (bergantung lalu lintas) jadi seharusnya berangkat sehari sebelum waktu training. Seharusnya berangkat hari Sabtu 30 November tapi berhubung gw udah terlanjur pesan tiket dan hotel ke Singapore gw akhirnya untuk memutuskan pergi sendiri, Mas Arifnya duluan saja karena yang hari pertama memang untuk instalasi di aplikasi WebGIS-nya dan itu tugas Mas Arif (gw mah nggk ngerti instalasinya, bukan kayak instal software yang tinggal Next-Finish). Karena sendiri ini team leader gw, Kak Mira, khawatir karena secara gw cewek. Tapi akhirnya Kak Mira melepas gw pergi sendiri. Gw udah nyari-nyari tahu jalan ke Takengon, bahkan sampe nelpon orang Takengonnya buat cari tahu. Setelah bertanya sana sini akhirnya gw memutuskan untuk naik bus executive malam dari Medan. Kalau dari Banda Aceh dia pake travel L300 (mobilnya kayak mobil elf gitu) dan berangkat jam 9 malam. Kalo berangkat jam 9 malam itu kan nyampe2 jam 2/3 malam, dan kan hotel baru check in jam 1 siang. Sedangkan kalau naik bus, walau dia 10-12 jam, lebih nyaman.

Gw berangkat Senin (2 Desember) dengan pesawat siang. Dari Bandara Soekarno Hatta gw menuju Bandara Kuala Namu. Nah, berhubung Kuala Namu ini tidak berada di kota Medannya banget, gw harus ke kota Medan terlebih dahulu untuk bisa ngambil bus ke Takengonnya. Dari bandara Kuala Namu ke Medan ada 3 cara:

  1. Naik Kereta express +- 37-45 menit, bayar Rp. 80.000
  2. Naik Taksi Bluebird, harga tergantung macet tidaknya
  3. Naik bus Damri +- 1-2 jam bayar Rp 10 - 15 ribu (untuk damri ini ada 2 tujuan, Carrefour Medan Fair Plaza sama Amplas, dan berangkat tiap 15 menit)
Awalnya sih gw pengen pake kereta yang jam 16.45, habis itu nyari bentor (becak motor) ke pangkalan busnya. TAPIIIIII, berhubung pesawat gw delay 1.5 jam, gw baru nyampe Kuala Namu jam 5 sore, which is si kereta udah berangkat. dan kereta berikutnya baru jam 17.55. Akhirnya gw pake bus Damri yang ke Carrefour dan bayar 15rebu.
Nah dari Carrefour itu gw nyewa bentor buat ke jalan Gajah Mada, tempat pool busnya, nanya harganya dikasih sama abang bentornya 15rebu. Pas nyampe ke pool busnya ternyata mobil yang membawa penumpang ke terminal busnya barusan berangkat. Agak panik sih karena takut ketinggalan bus (gw sih pake acara sok-sokan makam cream soup kfc dulu di Medan Plaza itu). Tapi untungnya ada di Abang bentor yang mau ngebut. Sampai di gudang/terminal busnya (belum berangkat yeay) gw lari-lari ke loketnya untuk beli tiket seharga Rp 125rb dan dapat nomor bangku 26. Dan alhamdulillah busnya emang gede, tiap bangku luas, ada bantal, selimut, sandaran kaki. Gw yang notabene jarang bisa tidur ini bisa tidur lelap sampe-sampe Kak Mira yang nelpon-nelponin gw nggk kebangun. Ka Miranya sampe panik bahkan sampe nelpon Arief (Arkus) (cieeee #abaikan) buat nanya kapan terakhir kali kontak-kontakan sama gw. Dan semakin malam udara semakin dingin, karena daerah Aceh Tengah emang lumayan tinggi bahkan Takengon dikenal sebagai negeri di atas awan karena kita bisa jalan-jalan dibalik awan. Akhirnya sekitar jam setengah 7 pagi gw sampe di Takengon.

to be continue... 

1.11.13

drama

So...this life full of drama...

Tetapi terkadang drama itu sendiri bisa jadi drama yang membahagiakan, bukan seperti sinetron-sinetron yang dramanya selalu tidak masuk akal dan berkepanjangan tiada akhir. Kadang drama itu sendiri membawa senyum lebar di wajah kita.

Siapa yang menyangka drama ini telah disusun sejak lama, tanpa disadari dan tanpa ada clue yang terlihat?

:)

mungkin untuk saat ini gw baru bisa bilang suatu drama sedang terjadi di hidup gw, pada awalnya emang gw kaget (dan speechless) saat tahu hal yang sebenarnya dibalik drama ini. Tapi setelah itu gw selalu senyum-senyum jika ingat kebenarannya

9.10.13

I am not leaving my dream, just expanded it bigger B-)

5.10.13

Study soon or postpone it

OK, I just talked with someone about my career and my study  (maybe). He told me that in Private sector education is not the very first important thing. The important thing is opportunity. He told me some stories about his friends who has PhD title but not really have great position in their job. He told me if I want to get higher education and then back to private sector, the path is wrong, but if I want to work in governmental, higher education is a must.

It was confusing, you know, I didn't tell him that the only career I want is in NGO especially UNICEF. I has been my dream since I was in college. And I want to be Minister of Environment in the very end of my career. He didn't tell me to not chasing master degree, he understands that I am young and love studying. He just give another opinion. Because in Indonesia, hard to find a perfect position as your title, different in any other developed countries.

I have ever read many jobs in other countries, they don't find workers who has high education, but they find someone with many (years of) experiences. He told me to be patient with the path I am walking now, that I am a pillar in the company. Without pillars, a building can not be solid.

But again I have told him that I really want to study in German. He still understand it and he told me to really chase it but give the very best of me until the time come.

4 'e's that important in career (as he told me)
enjoy
easy
excellent
earn 

So.....the parameters long or close you are to your dreams are depend on yourself

4.10.13

25.9.13

the fight

ceritanya gw lagi ngubek-ngubek archive twitter gw, dan gw dapat satu kesimpulan, masa paling galau gw adalah dibula april 2010, dimana saat itu gw lagi marahan sama sahabat baik gw banget, dan gw nggk tahu (dan masih nggak tahu sampai sekarang) sebabnya. Tapi sekarang kita udah baikan kok, walau udah jarang ketemu juga karena udah beda kota. We're still best friend. Dan ini beberapa tweet gw
keren gila kata-kata gw. wkwkwk


NB: saat itu gw ingat banget gw sedihnya bukan main

5.9.13

Luar Biasa

Kemarin itu hari yang...Luar Biasa!

Luar biasa semangatnya, luar biasa bingungnya, luar biasa galaunya.

Saat rapat internal gw dapat satu pembelajaran
walau dunia sekitarmu seperti tidak mendukungmu, tetapi jika kamu percaya dan punya harapan, niscaya harapan itu akan jadi kenyataan
 Setelahnya bertemu dengan orang-orang hebat dan keren yang membuat gw berpikir gw ini biasa-biasa sekali. Ah, teman-teman gw juga keren banget.

Malamnya dibuat super galau...
Saya khawatir dengan keluarnya A, kamu jadi terpengaruh dan berpikir untuk keluar juga. Kalau mau jujur kamu itu salah satu pilar utama disini. Tanpa adanya pilar suatu bangunan tidak akan bisa berdiri kokoh. 

Setidaknya sampai Desember ini. saat ini kamu orang yg akan paling saya pertahankan.
supergalau ya Allah, tolong beri petunjuk 

2.9.13

Perempuan

"Kamu ingin jadi apa sih?" pertanyaan yang satu ini sering ditanyakan oleh banyak orang ke banyak orang lainnya. Disini bermakna tentang cita-cita dan impian orang yang ditanyakan, tetapi jika yang ditanyakan adalah;

"Kamu ingin jadi perempuan seperti apa?" Pertanyaan ini sunggu membuat kebingungan, ketidakpercayaan, dan kebisuan dalam menjawab.

Disuatu saat sedang menggunakan pakaian yang tidak biasa (gaun), dilontarkanlah pernyataan:

"Nah, gitu aja terus dong, lebih kelihatan anggun,"

Dan masih banyak...

"Kamu kan cewek, ayu dikit dong, ngomongnya pelan sedikit"

Maaf jika saya bukanlah perempuan seperti yang ada dalam keinginan kalian. Jika memang mencari yang ayu, anggun, feminin, kalian tidak akan mendapatkannya dalam diri saya (setidaknya dalam waktu dekat ini). Seperti tagline blog ini
Lo Que Soy
This is Me! I am Who I am. Kalau ditanyakan lagi ingin menjadi perempuan seperti apa, saya akan menjawab "seperti saya saat ini"

sekian...

1.9.13

Leaving On A Jetplane

Kamis malam kemaren, saat gw masih berada di Semarang, dan saat gw sedang ditraktir makan sama Kak Imron (IMG03) dan Kak Gilang (IMG04), ada email kantor masuk. Email itu dari teman gw, Akbar, yang dimana dia dengan panjang lebar menyampaikan perpisahannya dengan semua orang kantor. FYI aja, Akbar ini pindah ke AUSAID.
Dari emailnya itu, dia meng-quote lagu Leaving On A Jetplane dengan bait persis seperti ini:
There’s so many times I’ve let you down
so many times I’ve played around
I’ll tell you now they don’t mean a thing
Saat itu gw jadi ternyata sehari sebelum gw diwisuda, dimana gw dan teman-teman gw bawain lagu ini dan gw persis banget dapat bait diatas. 2 hari dimana gw galau karena akan segera diwisuda dan saat itu gw merasa belum dapat apa-apa. Saat baca itu gw mau nangis jadinya, untungnya masih ditahan-tahan gara-gara ada Kak Imron dan Kak Gilang.

Sukses terus Akbar dimanapun langkah kakimu menuntunmu. Semoga kita beneran janjian di LA (walau kamu pengennya di NY sih)